Reporter Al-Ittihad saat sedang melakukan sesi wawancara dengan Camat Jatirogo, Supriyanto, beberapa waktu lalu. (Foto : Siti Siyaminingsih)

Al-Ittihad, edisi 1 - Sahabat Al-Ittihad, di era modern seperti saat ini banyak sekali terjadi kenakalan remaja yang sudah tak asing lagi kita dengar. Dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sudah semakin canggih, justru anak muda masa kini keblinger, dan tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Pengaruh media cetak, elektronik seperti koran, televisi dan internet yang menawarkan banyak situs jejaring sosial (Facebook dan Twitter) membuat mereka lebih mudah berinteraksi. Namun, seringkali hal itu justru membuat mereka tidak mempedulikan norma yang berlaku, seperti agama dan sosial. Hingga akhirnya, salah satu muaranya adalah pergaulan bebas.

Dalam era kini, pergaulan bebas memang sulit untuk dicegah. Bagaimana tidak?, anak muda jaman sekarang memang berbeda dengan jaman dulu. Oleh karenanya, seorang remaja kudu pintar-pintar menyikapi perkembangan itu, agar tidak mudah terjebak pada hal negatif. Fenomena peredaran narkoba, togel dan pencuri kendaraan, seolah hal lumrah terjadi di tengah masyarakat.
Di kota kecil kita, Jatirogo, dampak globalisasi jaman sudah semakin bisa terasakan. Banyak pertokoan, layanan publik begitu lengkap, belum lagi akses internet yang bisa ditemukan hampir di sudut kota. Kondisi itulah yang membuat banyak remaja memilih Jatirogo untuk menempuh pendidikan.

Namun, jika tidak disikapi dengan baik, kondisi itu akan membawa dampak pada kenakalan remaja. Belum lagi, jika dari keluarga tidak memberikan kontrol dan justru memberikan fasilitas-fasilitas yang bisa rentan mendukung kenakalan mereka.  Atas kondisi itu, bapak Supriyanto, camat jatirogo saat ditemui tim reporter Al-Ittihad jum’at(12/4) mengungkapkan, pebyimpangan sosial oleh remaja banyak yang terjadi karena ulah remaja itu sendiri. Mereka tidak bisa mengendalikan diri dan menyaring setiap produk tekno,logi yang berdar di tengah masyarakat.

“Banyak pelajar yang berurusan dengan pihak berwajib, karena ulah mereka dianggap bisa merugikan pihak lain,” terang bapak Supriyanto.

Menurut bapak Supriyanto, kondisi itulah yang bisa merusak moral bangsa. Untuk itu, ia berpandangan pendidikan harus dimulai sejak dini. Agar pemuda era kini tidak rusak moral dan jati dirinya. Kebanyakan remaja, tidak memperhatikan tata krama kepada orang tua dan sopan santun pada gurunya. Unggah-ungguh remaja era kini banyak yang kurang pantas, sehingga mereka tidak bisa mengamalkan nilai yang diajarkan pada sekolahan.

“Mereka memang berpamitan sekolah. Namun, sampai disana terkadang bolos, atau keluyuran di jam sekolah,” ujar camat asli Montong ini.

Bapak Supriyanto menambahkan, banyak diantara pelajar sekarang yang tidak begitu peduli dengan  materi pelajaran sekolah. Saat Ujian Nasional (UN) saja, seringkali yang bingung justru gurunya, bukan siswanya. Padahal, yang ujian itu adalah siswa, bukan guru. Mengapa demikian, menurut bapak Supriyanto karena sekolah merasa pesimistis, jika siswanya tidak lulus, sehingga membuat citra kurang baik terhadap almamater sekolah.

“Seringkali terjadi, saat UN yang bingung itu kalangan guru, bukan siswa. Itu menandakan banyak guru yang pesismistis akan kemampuan siswa. Selain itu, para guru juga takut hasil yang diraih siswa pada UN akan membawa citra kurang baik terhadap sekolah,” jelas pak camat sambil tersenyum.

Bapak Supriyanto menegaskan, perlu adannya upaya-upaya dari semua pihak untuk penanggulangan kenakalan remaja. Salah satu yang harus dikedepankan adalah langkah preventif, yaitu bimbingan serta bekal kegiatan keagamaan atau kerohanian untuk membentengi pelajar dari pengaruh negatif perkembangan jaman.

Selain itu, kata bapak Supriyanto, kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah serta aktif dalam keorganisasian juga bisa menjadi filter jitu menghadapi globalisasi jaman. Situasi itu membuat pelajar akan sibuk dengan hal positif, sehingga tidak sampai terpikir melakukan kegiatan-kegiatan yang sekiranya kurang baik.

“Banyak cara untuk membentengi remaja atau pelajar dari kenakalan, bisa melalui kegiatan ekstra-kurikuler maupun ikut aktif dalam organisasi sekolah. Nah, pembuatan majalah seperti ini oleh siswa juga merupakan langkah efektif menekan kenakalan remaja,” ungkapnya serius.

Terakhir, bapak Supriyanto mengingatkan agar remaja era kini benar-benar bisa membawa diri dalam bertindak dan bersikap. Beliau merasa keberadaan pondok pesantren bisa memberikan pengaruh baik bagi remaja. Sebagai basis ilmu agama, pesantren sudah seyogyanya bisa berperan dalam penanggulangani kenakalan remaja. Di lembaga itulah, remaja atau pelajar menimba ilmu agama dan memahami serta mempraktikkan akhlak yang diajarkan oleh para kyai.

“Pesantren saya kira bisa menjadi solusi tepat dalam langkah pencegahan terhadap kenakalan remaja. Apalagi, di dalamnya juga diajarkan bagiamna bersikap dan bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat,” pangkasnya mengakhiri perbincangan.
(Reportase by: Ismawati, Siti Siyaminingsih dan Nur Faizah)






0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Majalah Al-Ittihad © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top